Oleh: masadini | Oktober 23, 2009

Jenis-Jenis Imunisasi

Imunisasi Wajib (PPI ~ Program Pengembangan Imunisasi):

1. BCG
Imunisasi BCG diberikan satu kali pada bayi sebelum usia 2 bulan. Imunisasi BCG memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit tuberkulosis (TBC). Penyakit ini sangat menular dimana penularannya melalui udara yang mengandung kuman TBC, percikan ludah saat batuk dan meludah, bersin atau bercakap-cakap. Penyakit ini sangat berbahaya karena menimbulkan kerusakan paru, kerusakan tulang dan cacat mental karena kerusakan otak.

2. Hepatitis B
Imunisasi Hepatitis B diberikan 3 kali pada bayi dengan selang waktu 1 bulan antara pemberian pertama dengan pemberian kedua, serta selang waktu 5 bulan antara pemberian kedua dengan pemberian ketiga. Imunisasi ulangan dapat diberikan saat anak berusia 5 tahun. Pemberian pertama dilakukan dalam waktu 12 jam setelah bayi lahir. Imunisasi ini memberikan kekebalan terhadap virus hepatitis B yang dapat menyebabkan kerusakan hati, kanker hati bahkan kematian.

3. Polio
Imunisasi polio diberikan sebanyak 4 kali yaitu pada saat bayi baru lahir, berusia 2 bulan (polio I), 4 bulan (polio II) dan 6 bulan (polio III). Imunisasi polio ulangan diberikan 1 tahun setelah pemberian imunisasi polio III dan pada usia prasekolah yaitu usia 5 tahun. Imunisasi diberikan melalui mulut sebanyak 2 tetes. Imunisasi polio memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit poliomyelitis yang dapat menyebabkan nyeri otot dan kelumpuhan pada salah satu maupun kedua lengan atau tungkai. Polio juga dapat menyebabkan kelumpuhan pada otot-otot pernafasan sehingga menyebabkan kematian.

4. DTP
Imunisasi DTP diberikan sebanyak 3 kali yaitu pada saat bayi berusia 2 bulan (DTP I), 4 bulan (DTP II) dan 6 bulan (DTP III). Imunisasi DTP ulangan diberikan 1 tahun setelah pemberian imunisasi DTP III dan pada usia prasekolah yaitu usia 5 tahun. Vaksin disuntikkan pada otot lengan atau pada paha. Pemberian vaksin DTP ini umumnya diberikan bersamaan dengan pemberian imunisasi polio. Vaksin DTP merupakan gabungan dari tiga vaksin yaitu vaksin penyakit difteri, tetanus, dan pertusis. Difteri adalah infeksi tenggorokan yang sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian pada anak hanya dalam beberapa hari. Pertusis adalah penyakit radang saluran napas yang disebut juga batuk rejan atau batuk 100 hari yang dapat menyebabkan serangan batuk hebat sehingga anak tidak dapat bernafas, makan atau minum. Tetanus adalah penyakit kejang dan kaku otot di seluruh tubuh dengan mulut terkancing dan tidak bisa dibuka.

5. Campak
Imunisasi campak diberikan sebanyak 1 kali yaitu pada saat bayi berusia 9 bulan. Imunisasi campak memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit campak. Campak yang juga disebut morbili adalah suatu penyakit yang sangat berbahaya bagi bayi dan anak karena sering disertai komplikasi peradangan pada otak dan paru paru yang dapat menyebabkan kematian.

Imunisasi yang Disarankan (Non-PPI):

1. Hib (Haemofilus Influenza Tipe B)
Imunisasi Hib diberikan sebanyak 3 kali yaitu saat bayi berusia 2, 4 dan 6 bulan yang disuntikkan pada otot lengan atas atau pada paha. Pemberian imunisasi Hib membantu mencegah infeksi bakteri Haemophilus influenza tipe B yang dapat menyebabkan peradangan selaput otak (meningitis), peradangan pada paru paru dan sendi serta infeksi tenggorokan berat.

2. MMR
Imunisasi MMR diberikan sebanyak 1 kali yaitu saat anak berusia 15 bulan. Imunisasi ulangan dapat diberikan kembali saat anak berusia 4 – 6 tahun atau saat usia 11 – 13 tahun. Vaksin disuntikkan pada otot lengan atas atau pada paha.
Vaksin MMR merupakan gabungan dari tiga vaksin yaitu Measles (campak), Mumps (parotitis atau gondongan) dan Rubella (campak jerman). Campak selain menyebabkan demam dan ruam kulit juga dapat menyebabkan peradangan paru dan otak. Gondongan selain menyebabkan pembengkakan kelenjar liur, juga dapat menyebabkan peradangan selaput otak dan pembengkakan buah zakar. Campak Jerman selain menyebabkan demam dan ruam kulit, juga dapat menyebabkan peradangan otak, dan cacat bawaan kalau diderita oleh ibu hamil.

3. Tifoid
Imunisasi tifoid atau yang lebih dikenal dengan tifus diberikan saat anak berusia 2 tahun dan pemberiannya dapat diulang 3 tahun kemudian. Vaksin disuntikkan pada otot lengan atau pada paha. Pemberian imunisasi tifoid membantu mencegah infeksi bakteri Salmonella Typhii yang dapat menyebabkan penyakit tifus yaitu peradangan berat pada saluran pencernaan dan menyebabkan komplikasi ke organ tubuh lain termasuk hati.

4. Hepatitis A
Imunisasi diberikan pada saat anak berusia 2 tahun dan pemberian imunisasi ulangan diberikan 6 bulan kemudian. Vaksin disuntikkan pada otot lengan dimana vaksin ini akan memberikan kekebalan

5. IPD
IPD (Invasive Pneumococcal Disease) penyebabnya adalah Steptococcus pneumoniae, yang dapat mengakibatkan pneumonia, bakteriemia, meningitis, otitis media akut (OMA) dan sinusitis. Kematian akibat pneumonia yang disebabkan oleh IPD pada anak masih sangat tinggi. Penularan melalui udara yang mengandung kuman yang berasal dari penderita. Pencegahan dilakukan dengan menghindari kontak erat dengan penderita dan imunisasi.
Imunisasi IPD diberikan mulai umur 2 bulan sebanyak 3 kali dengan interval 2 bulan. Imunisasi ulangan diberikan 6 bulan setelah imunisasi terakhir.

6. HPV
HPV (Human Papiloma Virus) sering sebagai penyebab utama kanker serviks (mulut rahim), yang sering menyerang pada wanita usia dewasa muda, meningkat mulai umur 30 tahun dan puncaknya pada umur 40-49 tahun. Virus ini ditularkan melalui hubungan seks. Pencegahan dilakukan dengan menghindari hubungan seks terlalu dini, jangan sering ganti pasangan, menjaga kebersihan alat kelamin, PAP smear rutin, dan imunisasi. Kanker serviks merupakan satu-satunya kanker yang dapat dicegah dengan imunisasi. Imunisasi diberikan sebelum terjadi hubungan seks, yaitu pada gadis mulai umur 11-12 tahun, dengan jadwal 0-1-6 bulan

7. Influenza
Virus influenza sering menyebabkan gejala panas tinggi, nyeri otot dan gejala saluran pernafasan berupa nyeri tenggorok, batuk dan pilek. Influenza yang dicegah dengan imunisasi ini adalah yang berat, bukan sekedar batuk pilek biasa. Penularan melalui udara yang mengandung virus influenza dari penderita. Pencegahan dapat dilakukan dengan menghindari kontak erat dengan penderita dan imunisasi. Imunisasi diberikan untuk mencegah influenza berat yang sering menyebabkan kematian, bukan untuk mencegah batuk pilek ringan yang sering diderita anak-anak. Imunisasi diberikan pada anak mulai umur 6 bulan dan diulang tiap satu tahun.

8. Rotavirus
Rotavirus merupakan penyebab tersering diare pada anak di bawah umur 5 tahun dan penyebab kematian tertinggi akibat diare. Gejala berupa muntah, mencret cair, panas badan, dehidrasi, intoleransi laktosa. Penularan terutama melalui fecal-oral. Pencegahan dengan meningkatkan kebersihan dan imunisasi. Imunisasi rotavirus diberikan per oral, sebanyak 2 dosis, yaitu pada umur 2 bulan dan 4 bulan, atau 3 dosis umur 2-4-6 bulan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: